Ketertarikan dan Perjalanan dalam Dunia Tari
Ketertarikan dan kecintaan pada suatu kegiatan tertentu memunculkan keinginan untuk bisa melakukannya secara terus menerus. Manda, yang memiliki ketertarikan pada dunia tari memiliki perjalanan panjang dan suka dukanya dalam dunia tari sejak kecil hingga masa kuliah.
Manda mulai tertarik dengan dunia tari sejak kecil. Saat tinggal bersama neneknya, Manda kerap melihat banyak film maupun drama televisi yang disukai neneknya menampilkan bentuk musikal yang menarik. Perpaduan kegiatan menyanyi dan menari ini menarik perhatian Manda hingga membuatnya tertarik untuk bisa mengikuti aktor dan aktris di layar kacanya itu.
Pengetahuan dan skill Manda dalam dunia tari sendiri banyak dibentuk dari pengalaman-pengalamannya selama di masa bangku sekolah, mulai dari mengikuti sanggar, membuat koreografi saat perpisahan di SMA hingga mengikuti kegiatan-kegiatan tari di FISIP Universitas Indonesia, kampusnya. Manda bercerita ia sering mendapatkan inspirasi tentang dunia tari dari film musikal, drama televisi, K-pop dan beberapa akun Youtube yang diikutinya.
Saat berada di taman kanak-kanak (TK), Manda mulai sering ikut tampil dalam kegiatan menari di sekolahnya. Pada saat itu, tari yang sering ia ikuti adalah tari tradisional.
Saat duduk di bangku TK ini, Manda sering diajak untuk menetap di rumah kakeknya. Di dekat rumah kakeknya, ternyata terdapat sanggar tari tradisional yang banyak diikuti oleh anak-anak sebayanya. Akhirnya Manda memutuskan untuk bergabung dalam sanggar tari itu. Pada awalnya ia merasa sangat senang karena bisa melakukan kegiatan yang ia sukai, namun beberapa bulan kemudian ia sering merasa kurang nyaman atas beberapa perkataan teman di sanggarnya yang memiliki stereotip tertentu. “sering digangguin dan dikatain fisik, awalnya gapapa, tapi lama-lama kan namanya anak kecil, belum kuat mental ya,” tutur Manda yang akhirnya memilih untuk keluar dari sanggar tari tersebut.
Selain pernah mengikuti sanggar tari, saat kecil Manda juga pernah mengikuti les balet yang ditawarkan oleh ibunya. Namun, sama seperti di sanggar tari, ada beberapa teman dari Manda yang juga sering mengganggu dengan perkataan-perkataan yang membahas fisik atau melakukan body shaming. Merasa cukup terganggu, akhirnya seminggu setelah hari pertama ia mendaftar, Manda pun memilih untuk keluar dari les itu.
Beberapa pengalaman yang kurang mengenakan ini, membuat Manda enggan untuk masuk ke dalam dunia tari lagi. Namun, ia masih tetap ingin melakukan hal yang ia sukai itu dengan beberapa cara seperti menari sendiri di rumah, hingga inisiatif untuk membuat koreografi bersama teman di bangku sekolah dasarnya kala itu.
Saat memasuki masa sekolah menengah pertama (SMP), Manda menjadi semakin kurang tertarik dengan dunia tari karena pengalaman buruknya saat bertemu dengan kakak senior yang merupakan salah satu anggota dari ekstrakulikuler tari. “kamu serius mau nari? emang nggak takut diketawain? sempet ditanyain gitu, akhirnya nggak ikut yang berkaitan sama tari sama sekali.” kata Manda.
Kemauan untuk mulai masuk ke dunia tari karena keinginannya sendiri mulai dirasakan Manda saat berada di bangku kuliah. Saat sekolah menengah pertama (SMA), ia terpilih untuk menjadi salah satu penanggung jawab untuk penilaian tari untuk perpisahan kelasnya. Namun, ia merasa hal itu ia lakukan karena untuk kepentingan bersama bukan karena keinginannya secara penuh.
Selain karena mendapat support dari beberapa teman dan orang-orang di sekitarnya, Manda juga merasa bahwa ia tidak bisa terus menyimpan ketakutan-ketakutannya terhadap pengalaman masa lalunya di dunia tari, “aku mikir, aku nggak bisa selamanya hidup dalam omongan orang yang pernah aku dengar itu, nggak selamanya aku harus merasa takut untuk memulai, takut ini takut itu, jadi aku coba buat nggak terlalu peduli lagi sih sama apa kata orang.” kata Manda.
Momen masuk kuliah pada saat itu, menjadi tempat yang tepat untuk memulai semuanya dengan hal yang baru dan mulai untuk bisa lebih memberanikan diri lagi menurut Manda. Ia mulai masuk menjadi salah satu pengisi acara di divisi tari untuk acara di fakultasnya. Manda mulai bisa memulai untuk kembali masuk ke kegiatan yang disukainya tersebut tulus karena keinginannya sendiri. “Aku waktu itu sih seneng, dalam artian aku bisa ngelakuin apa yang aku mau nih akhirnya, gitu, dan alhamdulillah nggak ada yang ngomongin aneh-aneh sih.”
Untuk saat ini, Manda memilih untuk belum melanjutkan kecintaannya pada dunia tari, bukan karena masih tidak percaya diri, tetapi ada alasan kuat lainnya yang membuatnya mengambil keputusan tersebut. Manda merasa perlu istirahat karena kondisi kesehatannya sempat menurun di tahun lalu, dan alasan lainnya juga adalah karena kesibukan kuliah sebagai mahasiswi tingkat akhir yang menyulitkannya untuk bisa membagi waktu untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain di luar kebutuhan akademik.
Comments
Post a Comment