Keberagaman Etnis dan Bentuk Toleransi di Kota Tua Ampenan

Kota Tua Ampenan, salah satu tempat peninggalan sejarah di Pulau Lombok ini menjadi rumah untuk berbagai suku bangsa dan etnis. Di dalamnya terdapat perkampungan yang terdiri atas etnis Melayu, Tionghoa, Bugis, Arab dan masih banyak lagi.


Banyaknya suku bangsa yang menetap di wilayah Kota Tua Ampenan ini dilatarbelakangi oleh sejarah kota Ampenan sendiri yang pernah menjadi pelabuhan andalan di Lombok. Kota Tua Ampenan ini dibangun oleh Belanda sejak tahun 1924.



Bentuk keberagaman dari Kota Tua Ampenan dapat terlihat dari berbagai bentuk rumah ibadah, penggunaan bahasa, dan arsitektur bangunan yang terdapat di sekitar wilayah ini. Hal ini lah yang menjadi ciri khas dari Kota Tua Ampenan, karena beberapa bentuk peninggalan sejarah ini masih tetap dipertahankan bentuk dan warnanya hingga sekarang.


Salah satu rumah ibadah yang terdapat di wilayah ini adalah Klenteng Po Hwa Kong, atau yang saat ini sering disebut dengan Vihara Bodhi Dharma. Klenteng ini merupakan klenteng tertua yang ada di Pulau Lombok. Diperkirakan, klenteng ini telah dibangun sejak 1840 tahun silam. 


Vihara ini terletak persis di depan kampung Melayu, yang mayoritas dihuni oleh warga beragama Islam. Klenteng ini juga menjadi tempat ibadah untuk umat persatuan 3 agama turunan dari China atau biasa disebut agama Tri Dharma, yakni Kong Hu Chu, Tao dan Buddha.



Di samping itu, kebersamaan antar warga keturunan Tionghoa dan warga sekitar klenteng ini tetap dapat berjalan secara dinamis dan rukun.


Jika mulai memasuki kampung Pecinan yang dihuni masyarakat Tionghoa, kita dapat menemukan bentuk arsitektur rumah yang didominasi oleh rumah toko (ruko) dua tingkat. Masyarakat menggunakan lantai satu sebagai toko untuk mereka berjualan, sementara lantai dua difungsikan untuk menjadi tempat tinggal mereka.



Bangunan lain yang masih berdiri di wilayah ini adalah gedung Hok Kian Kong Hwee. Dahulunya gedung ini merupakan sebuah gedung perkumpulan etnis Hokkian. Gedung ini digunakan sebagai tempat pertemuan dan perkumpulan warga Hokkian (Fujian) di Mataram yang bernama Hokkian Kong Hwee (Fujian Gonhui).



Selain beberapa bangunan di atas, di sekitar wilayah ini juga dapat ditemukan pemakaman Tionghoa. Pemakaman ini dinamakan Pemakaman Bintaro. Pemakaman ini dihiasi oleh nisan-nisan bergaya ciri khas Tiongkok dan ada juga yang berciri khas Eropa.


Selain dari berbagai bentuk bangunan dan rumah ibadah, penggunaan bahasa dan logat yang kental antar sukunya masih bisa terlihat di wilayah ini, walaupun bahasa yang digunakan sehari-hari tetap merupakan bahasa indonesia.


“Rata-rata sih bahasa Indonesia, cuma logatnya itu yang berbeda, biasanya kan kalau lingkungannya beda, logat dan cara pengucapannya juga beda” kata Nasim salah satu warga Arab yang menetap di wilayah ini.


Bentuk toleransi dari keberagaman yang ada di Kota Tua Ampenan sendiri dapat terlihat dari pelaksanaan hari tertentu, seperti hari Kemerdekaan Indonesia. Para pemuda dan masyarakat di wilayah ini akan melaksanakan berbagai kegiatan lomba untuk memeriahkan acara. Namun, beberapa tahun ini pelaksanaannya sedang ditiadakan karena banyak pemudanya yang merantau dan juga kondisi pandemi Covid-19 yang belum memungkinkan berlangsungnya kegiatan.


Warga Kota Tua Ampenan juga merayakan hari-hari besar sesuai dengan agama mereka masing-masing. Perayaan hari-hari besar ini juga terkadang mengundang beberapa warga dari agama lain untuk hadir dalam acaranya. Misalnya seperti perayaan Maulid Nabi, acara yang dilakukan tiap tahunnya oleh umat muslim ini juga akan mengundang beberapa tamu dari tetangga Tionghoa atau Melayu di sekitarnya.


Menurut Raymond, warga Tionghoa yang tinggal di wilayah ini, salah satu bentuk perubahan yang dapat ia rasakan saat ini dengan dulu adalah adanya toleransi yang lebih besar baik dari masyarakat Tionghoa, masyarakat Timor, masyarakat Arab dan lainnya.


“Dulu orang takbiran ngga pernah lewat kampung Timor, tapi setelah dua tahun belakangan mereka lewat di depan kampung Timor,. Biasanya kalau jumatan juga ngga pernah ada yang mau lewat situ, tapi kalau sekarang sudah lumayan banyak yang lalu lalang kalau mau jumatan.” kata Raymond.


“Pas puasa juga kalau orang muslim lagi jalan lewat tapi kita lagi makan misalnya, kita coba untuk menghargai jadi hadap belakang gitu contohnya.” tambahnya.


Namun menurut Nasim, seiring dengan berjalannya waktu, saat ini masyarakat antar suku sudah mulai terbiasa dan bisa lebih membuka diri untuk bisa menerima dan menghargai satu dengan lainnya. 


“Dulu orang China sini kalau ada acara dipagerin besi karena sering dilempar-lempar, tapi sekarang kalau ada acara ya ngga gitu lagi udah lebih aman sekarang.


Saat dulu waktu mereka masih kecil, baik Raymond maupun Nasim mengatakan orang-orang di lingkungannya masih kental dan ketat dengan etnis mereka masing-masing. Bahkan terkadang ada larangan dan batasan tertentu untuk bisa berinteraksi dan berteman dengan teman dari lain etnis.


“Dulu itu emang masih orang timur ya orang timur aja, arab ya arab aja, dulu emang kayak gitu, cuma karena ada perkembangan zaman jadi orang akhirnya ngga terlalu menghiraukan itu dan jadi bercampur.”


Namun, berbeda dengan saat ini, karena hidup secara berdampingan, masyarakat di Kota Tua Ampenan juga mulai bisa beradaptasi untuk menghargai berbagai bentuk perbedaan yang ada. Bahkan mereka juga saling mengundang satu sama lain untuk bisa menghadiri acara-acara di hari besar mereka.


Salah satu contoh yang menarik lainnya adalah sudah banyaknya terjadi pernikahan antar etnis di Ampenan itu sendiri, baik antara suku Tionghoa dengan suku Sasak, suku Arab dengan suku Tionghoa, dan lainnya.


Link Soundslide: Keberagaman Etnis dan Bentuk Toleransi di Kota Tua Ampenan


Comments